Parent's Class 2 akan segera datang dengan topik bahasan Kiat Mendidik Remaja Usia 13-16 thn Sesuai Firman Tuhan
Catat detailnya :
Tema: Menjelajah Dunia Remaja, Melangkah dan Bertumbuh Dalam KasihNya
Waktu : Minggu, 25 Oktober 2015/ Jam 09:00 - 12:00 WIB
Tempat : Aula SD AMORE PRIME SCHOOL, Metro Permata I Blok A1 No 27-29
Pembicara : Ibu Clara Gia Shinta (Konselor, Psychoterapist Certified PAS)
Daftar melalui
1. Sekretariat Paroki (Ibu Vita, 021 7306550)
2. Kirim SMS/WA : NAMA_LINGKUNGAN ke 0878 8544 5168
3. Email ke : KeluargaBernadet@Gmail.com
Gratis, Ajak Pasangannya.
Tuhan Memberkati!
keluargabernadet
blog tentang membangun keluarga katolik sejati berisi tentang cara mendidik anak sesuai Firman Tuhan
Rabu, 07 Oktober 2015
Jumat, 11 September 2015
Jawaban Pertanyaan Parenting Class 30 Agustus 2015
1. Bila tidak berkembang apa maksud:
- Korban bully /
pelaku bully
- Insecure
- Obsesif
J:
Perkembangan
bila tidak sesuai akan menyebabkan anak menjadi :
Korban
bully : anak yang berulang-ulang diintimidasi temannya atau anak lain.
Ditakut-takuti, diancam, dianiaya, bisa perasaannya, fisiknya, atau jiwanya,
tanpa dapat memberikan perlawanan.
Pelaku
bully: teman atau anak lain yang berulang kali melakukan perbuatan mengancam,
menganiaya, menakut-nakuti teman atau anak lain yang lebih lemah tanpa adanya
perlawanan atau pembelaan diri dari teman atau anak lain itu.
Mereka
mengalami ini karena perkembangan beberapa ketrampilan diri seperti
sosialisasi, ekspresi perasaan/pikiran, dan lainnya tidak ada atau terhambat.
Biasanya karena pola asuh orang tua yang otoriter atau justru sangat
memanjakan.
Insecure:
adalah perasaan tidak aman atau nyaman yang dimiliki seorang anak yang dapat
disebabkan tidak adanya kelekatan atau relasi yang hangat dan nyaman dari orang
tuanya, terutama ibu. Biasanya kelekatan dan relasi ini penting saat anak
berusia 0-2/3 tahun.
Obsesif
adalah suatu bentuk dorongan atau pemikiran akan suatu hal tertentu secara
terus-menerus. Misalnya, harus mencuci tangan terus –menerus, memastikan pintu
rumah sudah dikunci dengan berkali-kali memeriksa pintu.
2. Bagaimana menyikapi anak umur 5 Tahun 10 Bulan, dirumah
anaknya aktif, bawel, tapi kalau disekolah pasif (jago kandang)
J:
Ada
anak-anak yang memang tidak merasa aman/cemas bila berbicara di situasi sosial tertentu
seperti sekolah. Banyak faktor penyebabnya, antara lain; takut karena pernah
lihat guru memarahi teman, pernah trauma
dengan kejadian tertentu, suka ditakuti-takuti dsb. Perlu sekali mencari
penyebabnya. Namun, ada hal yang dapat dilakukan yaitu mendekati, berbicara
dari hati ke hati, mungkin gurunya datang ke rumah, bersikap biasa tetapi
memberikan perhatian. Penting sekali untuk tidak memaksa anak aktif berbicara.
Biarkan dia merasa aman dan nyaman untuk berbicara di situasi sosial seperti
sekolah sesuai dengan keinginannya.
3. Bagaimana cara mengarahkan anak yang dewasa supaya tidak
berpacaran dengan lain iman?
Apa yang harus
dilakukan orang tua mengarahkannya agar menuruti kemauan orang tua tapi tidak
marah?
Contoh apa yang
pantas untuk mengalihkan anak agar mau mencari teman yang seiman?
J:
Cara mengarahkan anak
agar berpacaran dengan orang yang seiman adalah pertama sebagai orang tua kita
harus berdoa bersamanya dan baginya. Tumbuhkan suasana keimanan yang bermakna
bagi anak agar ia mengalami relasi yang kuat dengan Kristus. Berbicaralah dari
hati ke hati sesering mungkin tentang indahnya iman kita. Ajak membangun altar
keluarga seperti doa bersama, bermadah/mendengarkan lagu2 rohani, ajak/libatkan
dengan kegiatan kepemudaan seperti OMK /Bina Iman Remaja, dan memberikan
teladan bagaimana kita sebagai orang tua merasakan cinta kasih Allah dalam
keimanan yang sama. Selanjutnya serahkan kepada Allah, biarlah Dia yang
berperkara atas diri anak kita.
4. Bagaiman cara mengembalikan kepercayaan diri kepada anak?
J:
Penyebab anak kurang
rasa percaya diri harus dilihat dari berbagai faktor. Misalnya, kemampuan
dirinya, pola asuh orang tua, lingkungan/komunitas di sekitarnya dan
sebagainya.
5. Apa yang harus dilakukan bila gagal dalam hidup?
(pendidikan, pergaulan, dll.)
J:
Kegagalan dalam hidup
bukan harus diartikan sebagai hidup tanpa harapan tetapi memaknainya sebagai
kesempatan untuk melakukan yang lebih baik lagi dengan tetap bersandar kepada
Allah. Sebagai orang tua, kita perlu bertanya juga kepada diri kita sendiri
mengapa anak saya gagal? Mengapa Tuhan izinkan kegagalan ini dialami anak saya?
Evaluasi lagi berbagai hal yang mungkin menjadi penyebab kegagalan, misalnya
kurang rajinkah, kurang mampu mengerjakan tugas itukah, terlalu focus dengan
hal-hal yang tidak pentingkah, salah memilih teman sepergaulankah, dsb. Bila
memang mengalami kegagalan karena faktor-faktor di atas, dukungan orang tua
sangat diperlukan. Ajak anak melihat penyebab kegagalan itu, bicarakan apa yang
dapat dilakukan untuk memperbaiki, berdoalah. Bila anak cukup mengerti ajak
anak melihat maksud Tuhan mengizinkan kegagalan ini terjadi dan bangkitlah
bersama anak untuk mengatasi kegagalan itu. Memang tidak mudah bangkit dari
suatu kegagalan tetapi dukungan orangtua, kehadiran orang tua yang bermakna,
doa dan kata-kata yang menguatkan akan mampu membantu anak kita yang mengalami
kegagalan karena kita percaya bahwa Roh Kudus yang memampukan kita.
6. Bagaimana menghadapi orang tua untuk menjelaskan anak
yang telah mengalami sexual abuse berkali-kali dan bertahun-tahun berjuang
sendiri menghadapi trauma & dampak lainnya?
J:
Sexual abuse atau
pelecehan/penganiayaan seksual merupakan peristiwa traumatis yang sangat tidak
dapat diterima siapapun apalagi orang tua. Bila orang tua tidak tahu kalau
anaknya mengalami pelecehan seksual, maka penjelasan sebaiknya diberikan oleh
profesional yang dapat menjelaskan dengan tepat.
Kalau orang tua
sampai tidak tahu anaknya mengalami pelecehan seksual berkali-kali , bahkan
bertahun-tahun dan harus berjuang sendiri, maka relasi mereka perlu
dipertanyakan. Kedekatan yang seperti apa yang terjalin di antara anggota
keluarga juga pola asuh yang bagaimana yang diterapkan. Sepertinya kondisi seperti ini harus segera
ditanganani, sulit bila hanya bertanya jawab lewat media sosial. Bila berkenan
saya bersedia membantu lebih lanjut secara personal. Kerahasiaan terjamin.
7. Saya mempunyai waktu yang banyak bersama keponakan umur
15 bulan, mengasuh bersama ibu (nenek si anak) bila kakak saya bekerja. apa
yang bisa saya lakukan untuk mendukung pendidikan anak tanpa mengambil alih
peran orang tua kandung. Saya juga wali baptis anak tersebut
J:
Membantu anak
berkembang akan sangat menguntungkan bagi perkembangan si anak, apalagi bila
ibu bekerja. Banyak kegiatan yang dapat dilakukan seperti mengajak anak
berjalan-jalan, membacakan buku cerita, memandikan dsb. Karena si anak masih
berusia 15 bulan. Namun, pengasuhan utama tetap pada orang tua. Ibu harus
mengajarkan nilai-nilai keluarga, membentuk karakter, mengasah kepekaan diri,
dan memperkaya emosi. Hal ini dapat didukung oleh lingkungan sehingga sejalan
dan perkembangan sesuai.
8. Bagaimana caranya untuk mendewasakan anak, atas kesalahan
orang tua dikarenakan terlambat dalam pendidikan di kedisiplinan waktu kecil
(dimanfaatkan/salah asuh)
J:
Mendidik anak agar
mandiri dan dewasa tidak dapat dilakukan serta merta, harus melalui proses yang
dilakukan sejak anak masih kecil. Contoh, ajarkan anak membereskan sendiri
mainannya, mengembalikan barang yang digunakan ke tempat semula, dsb. Memang
sulit bila telah tertanam pembiasaan lain yang tidak mengarahkan pada
kedisiplinan dan kedewasaan.
9. Bagaimana cara menghilangkan kebiasaan buruk anak yang
sudah diajarkan oleh pengasuhnya?
J:
Orang tua harus
memiliki otoritas terhadap anak, sehingga anak belajar patuh kepada otoritas
yang tepat. Bukan orang lain. Ajak pengasuh anak ikut serta menanamkan
kebiasaan baik, kedisiplinan, dan kemandirian kepada anak. Bila pengasuh tetap
tidak mau bekerja sama, perlu dipikirkan mengganti dengan pengasuh lain karena
pengaruhnya akan dirasakan anak sampai dewasa. Belajar patuh kepada orang tua
sebagai bentuk kepatuhan kita dan anak kita kepada Allah di surga.
10.
Anak saya perempuan,
10th, emosinya agak tinggi, kalau diajak ngobrol atau dikasih tau tentang
kesalahan anak, dia selalu menjawab dengan: "apaan sih" dengan nada
tinggi. Kalau kita teruskan obrolan atau arahan orang tua, ujung - ujungnya si
anak pasti menangis
Bagaimana cara
mendampingi dan membimbing anak seperti ini?
J:
Untuk anak perempuan
berusia 10 tahun dan menunjukkan emosi tinggi, sulit dinasehati, dan cenderung
melawan, orang tua, terutama ibu perlu melihat hubungan/relasi dan kedekatan
yang terjalin selama ini. Apakah dekat? Atau justru jarang berelasi? Siapa yang
lebih banyak waktu bersamanya? Apakah ada kemanjaan yang berlebihan sehingga si
anak mengembangkan sikap egois dan tidak mau mendengarkan orang lain, bahkan
orang tuanya. Pernahkah ditanya mengapa menangis bila diajak bicara? Apa yang
diinginkan? Dsb.
Cara membimbing yang
mungkin dapat dilakukan, ketahui dulu kebutuhannya dalam hal ini kebutuhan
emosionalnya, adakan pendekatan dengan cara yang bukan pengajuan pertanyaan
atau berbentuk nasehat. Pendekatan lebih pada sentuhan fisik misalnya
memeluknya, mengajaknya berjalan-jalan, membeli es krim, melihat gambar dsb. Yang membuat anak nyaman untuk
menyampaikan isi hati/perasaannya.
Otoritas orang tua tetap harus dihormati anak. Bila berkenan, boleh
menghubungi saya karena sepertinya persoalannya tidak sesederhana yang
ditanyakan.
11.
Minus teman sebaya
menjadi bergaul dengan orang dewasa (10th di komunitas remaja) karena mereka
lebih diterima di teman sebaya ada larangan dan ortu teman. Bagaimana saya
harus bersifat terhadap teman saya
J:
Anak sebaiknya
bergaul dengan teman sebayanya karena mereka memiliki perkembangan yang hampir
sama dalam berpikir, bersosialisasi, berinteraksi, dsb. Bila terbiasa bergaul
dengan teman-teman yang usianya jauh di atas, akan memberikan dampak kurang
baik dalam perkembangannya.
12.
Bagaimana cara
memanage emosi anak (gampang marah dan cengeng)
J:
Anak yang mudah marah
tetapi cepat menangis/cengeng biasanya mengalami suatu pengalaman yang tidak
menyenangkan. Mungkin pola asuh, relasi, kedekatan, pendisiplinan, dsb. yang
membuat anak seperti itu. Cara
mengatasinya, temukan dahulu penyebabnya.
Misalnya, orang tua yang tidak konsisten, suka memanjakan tetapi
keras/suka memukul juga, sehingga anak bingung dan mudah marah.
13.
Bagaimana cara
membela anak jika sedang ditegur keras sama pasangan kita
J:
Bila pasangan menegur anak, sebaiknya pembelaan
tidak dilakukan saat itu. Mungkin membantu pasangan dengan menjelaskan dapat
dilakukan tetapi tidak langsung membela anak saat ia ditegur. Teguran agak
keras perlu tetapi sikap kasar dan menganiaya tidak boleh. Tuhan mengizinkan kita memarahi anak, tetapi
tidak memperboleh kemarahan itu menjadi sakit hati. Maksudnya, tegur perbuatan
anak tetapi tidak berkata kasar tentang pribadinya apalagi menyakiti
perasaannya. Misalnya, ayah tidak suka cara kamu berbicara kepada orang tua,
ibu marah melihat sikap kamu yang kurang sopan, dsb.
Kita dapat
menyampaikan kepada pasangan kita di waktu terpisah agar cara menegur anak
tidak seperti lain kali.
14.
Anak saya laki-laki
umur 6th 7bl, sangat aktif cenderung sulit untuk diberi nasihat, & gampang
lupa terhadap nasihat, dalam belajar tidak ada masalah, hanya keaktifannya yang berlebih, saya harus
bagaimana dalam memberi tahu?
J:
Anak aktif dan
cenderung sulit dinasehati. Untuk anak berusia 6/7 tahun yang dimaksud keaktifannya seperti apa, karena anak seusia itu memang cukup aktif. Perlu
dilihat juga apakah memang dia anak yang kinestetik atau suka bergerak atau ada
hal lain yang perlu lebih diperhatikan. Mengingatkan anak untuk mengendalikan
keaktifannya boleh dilakukan. Juga memberikan reward/penghargaan misalnya
berupa sticker atau hal lain yang disukai bila dia dapat mendengarkan hal yang
dinasehatkan orang tua. Boleh menghubungi saya untuk saya bantu observasi
karena kurang lengkap bila hanya melalui penjelasan tertulis.
Rabu, 02 September 2015
Selamat Datang Di Keluarga Bernadet - Dalam Yesus Kita di Paroki St Bernadet Bersaudara
Para Keluarga Katolik Terkasih,
Selamat Datang Di Blog ini. Terima kasih telah meluangkan waktu berkunjung.
Blog ini di dedikasikan untuk Keluarga-keluarga Katolik di Paroki Santa Bernadet.
Meski kita belum memiliki Gedung Gereja secara Fisik namun tidak berarti kita tidak bisa berkarya. Melalui Blog ini mari kita membangun Keluarga-Keluarga Katolik Sejati yang Takut akan Tuhan dan Mencintai FirmanNya.
Selamat membaca!
Selamat Datang Di Blog ini. Terima kasih telah meluangkan waktu berkunjung.
Blog ini di dedikasikan untuk Keluarga-keluarga Katolik di Paroki Santa Bernadet.
Meski kita belum memiliki Gedung Gereja secara Fisik namun tidak berarti kita tidak bisa berkarya. Melalui Blog ini mari kita membangun Keluarga-Keluarga Katolik Sejati yang Takut akan Tuhan dan Mencintai FirmanNya.
Selamat membaca!
Langganan:
Postingan (Atom)