Jumat, 11 September 2015

Jawaban Pertanyaan Parenting Class 30 Agustus 2015

1.  Bila tidak berkembang apa maksud:
- Korban bully / pelaku bully
- Insecure
- Obsesif
J:
Perkembangan bila tidak sesuai akan menyebabkan anak menjadi :
Korban bully : anak yang berulang-ulang diintimidasi temannya atau anak lain. Ditakut-takuti, diancam, dianiaya, bisa perasaannya, fisiknya, atau jiwanya, tanpa dapat memberikan perlawanan.
Pelaku bully: teman atau anak lain yang berulang kali melakukan perbuatan mengancam, menganiaya, menakut-nakuti teman atau anak lain yang lebih lemah tanpa adanya perlawanan atau pembelaan diri dari teman atau anak lain itu.
Mereka mengalami ini karena perkembangan beberapa ketrampilan diri seperti sosialisasi, ekspresi perasaan/pikiran, dan lainnya tidak ada atau terhambat. Biasanya karena pola asuh orang tua yang otoriter atau justru sangat memanjakan.
Insecure: adalah perasaan tidak aman atau nyaman yang dimiliki seorang anak yang dapat disebabkan tidak adanya kelekatan atau relasi yang hangat dan nyaman dari orang tuanya, terutama ibu. Biasanya kelekatan dan relasi ini penting saat anak berusia 0-2/3 tahun.
Obsesif adalah suatu bentuk dorongan atau pemikiran akan suatu hal tertentu secara terus-menerus. Misalnya, harus mencuci tangan terus –menerus, memastikan pintu rumah sudah dikunci dengan berkali-kali memeriksa pintu.

2.  Bagaimana menyikapi anak umur 5 Tahun 10 Bulan, dirumah anaknya aktif, bawel, tapi kalau disekolah pasif (jago kandang)
J:
Ada anak-anak yang memang tidak merasa aman/cemas bila berbicara di situasi sosial tertentu seperti sekolah. Banyak faktor penyebabnya, antara lain; takut karena pernah lihat guru memarahi teman,  pernah trauma dengan kejadian tertentu, suka ditakuti-takuti dsb. Perlu sekali mencari penyebabnya. Namun, ada hal yang dapat dilakukan yaitu mendekati, berbicara dari hati ke hati, mungkin gurunya datang ke rumah, bersikap biasa tetapi memberikan perhatian. Penting sekali untuk tidak memaksa anak aktif berbicara. Biarkan dia merasa aman dan nyaman untuk berbicara di situasi sosial seperti sekolah sesuai dengan keinginannya.

3.  Bagaimana cara mengarahkan anak yang dewasa supaya tidak berpacaran dengan lain iman?
Apa yang harus dilakukan orang tua mengarahkannya agar menuruti kemauan orang tua tapi tidak marah?
Contoh apa yang pantas untuk mengalihkan anak agar mau mencari teman yang seiman?
J:
Cara mengarahkan anak agar berpacaran dengan orang yang seiman adalah pertama sebagai orang tua kita harus berdoa bersamanya dan baginya. Tumbuhkan suasana keimanan yang bermakna bagi anak agar ia mengalami relasi yang kuat dengan Kristus. Berbicaralah dari hati ke hati sesering mungkin tentang indahnya iman kita. Ajak membangun altar keluarga seperti doa bersama, bermadah/mendengarkan lagu2 rohani, ajak/libatkan dengan kegiatan kepemudaan seperti OMK /Bina Iman Remaja, dan memberikan teladan bagaimana kita sebagai orang tua merasakan cinta kasih Allah dalam keimanan yang sama. Selanjutnya serahkan kepada Allah, biarlah Dia yang berperkara atas diri anak kita.

4.  Bagaiman cara mengembalikan kepercayaan diri kepada anak?
J:
Penyebab anak kurang rasa percaya diri harus dilihat dari berbagai faktor. Misalnya, kemampuan dirinya, pola asuh orang tua, lingkungan/komunitas di sekitarnya dan sebagainya.

5.  Apa yang harus dilakukan bila gagal dalam hidup? (pendidikan, pergaulan, dll.)
J:
Kegagalan dalam hidup bukan harus diartikan sebagai hidup tanpa harapan tetapi memaknainya sebagai kesempatan untuk melakukan yang lebih baik lagi dengan tetap bersandar kepada Allah. Sebagai orang tua, kita perlu bertanya juga kepada diri kita sendiri mengapa anak saya gagal? Mengapa Tuhan izinkan kegagalan ini dialami anak saya? Evaluasi lagi berbagai hal yang mungkin menjadi penyebab kegagalan, misalnya kurang rajinkah, kurang mampu mengerjakan tugas itukah, terlalu focus dengan hal-hal yang tidak pentingkah, salah memilih teman sepergaulankah, dsb. Bila memang mengalami kegagalan karena faktor-faktor di atas, dukungan orang tua sangat diperlukan. Ajak anak melihat penyebab kegagalan itu, bicarakan apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki, berdoalah. Bila anak cukup mengerti ajak anak melihat maksud Tuhan mengizinkan kegagalan ini terjadi dan bangkitlah bersama anak untuk mengatasi kegagalan itu. Memang tidak mudah bangkit dari suatu kegagalan tetapi dukungan orangtua, kehadiran orang tua yang bermakna, doa dan kata-kata yang menguatkan akan mampu membantu anak kita yang mengalami kegagalan karena kita percaya bahwa Roh Kudus yang memampukan kita.

6.  Bagaimana menghadapi orang tua untuk menjelaskan anak yang telah mengalami sexual abuse berkali-kali dan bertahun-tahun berjuang sendiri menghadapi trauma & dampak lainnya?
J:
Sexual abuse atau pelecehan/penganiayaan seksual merupakan peristiwa traumatis yang sangat tidak dapat diterima siapapun apalagi orang tua. Bila orang tua tidak tahu kalau anaknya mengalami pelecehan seksual, maka penjelasan sebaiknya diberikan oleh profesional yang dapat menjelaskan dengan tepat.
Kalau orang tua sampai tidak tahu anaknya mengalami pelecehan seksual berkali-kali , bahkan bertahun-tahun dan harus berjuang sendiri, maka relasi mereka perlu dipertanyakan. Kedekatan yang seperti apa yang terjalin di antara anggota keluarga juga pola asuh yang bagaimana yang diterapkan.  Sepertinya kondisi seperti ini harus segera ditanganani, sulit bila hanya bertanya jawab lewat media sosial. Bila berkenan saya bersedia membantu lebih lanjut secara personal. Kerahasiaan terjamin.

7.  Saya mempunyai waktu yang banyak bersama keponakan umur 15 bulan, mengasuh bersama ibu (nenek si anak) bila kakak saya bekerja. apa yang bisa saya lakukan untuk mendukung pendidikan anak tanpa mengambil alih peran orang tua kandung. Saya juga wali baptis anak tersebut
J:
Membantu anak berkembang akan sangat menguntungkan bagi perkembangan si anak, apalagi bila ibu bekerja. Banyak kegiatan yang dapat dilakukan seperti mengajak anak berjalan-jalan, membacakan buku cerita, memandikan dsb. Karena si anak masih berusia 15 bulan. Namun, pengasuhan utama tetap pada orang tua. Ibu harus mengajarkan nilai-nilai keluarga, membentuk karakter, mengasah kepekaan diri, dan memperkaya emosi. Hal ini dapat didukung oleh lingkungan sehingga sejalan dan perkembangan sesuai.

8.  Bagaimana caranya untuk mendewasakan anak, atas kesalahan orang tua dikarenakan terlambat dalam pendidikan di kedisiplinan waktu kecil (dimanfaatkan/salah asuh)
J:
Mendidik anak agar mandiri dan dewasa tidak dapat dilakukan serta merta, harus melalui proses yang dilakukan sejak anak masih kecil. Contoh, ajarkan anak membereskan sendiri mainannya, mengembalikan barang yang digunakan ke tempat semula, dsb. Memang sulit bila telah tertanam pembiasaan lain yang tidak mengarahkan pada kedisiplinan dan kedewasaan.

9.  Bagaimana cara menghilangkan kebiasaan buruk anak yang sudah diajarkan oleh pengasuhnya?
J:
Orang tua harus memiliki otoritas terhadap anak, sehingga anak belajar patuh kepada otoritas yang tepat. Bukan orang lain. Ajak pengasuh anak ikut serta menanamkan kebiasaan baik, kedisiplinan, dan kemandirian kepada anak. Bila pengasuh tetap tidak mau bekerja sama, perlu dipikirkan mengganti dengan pengasuh lain karena pengaruhnya akan dirasakan anak sampai dewasa. Belajar patuh kepada orang tua sebagai bentuk kepatuhan kita dan anak kita kepada Allah di surga.

10.         Anak saya perempuan, 10th, emosinya agak tinggi, kalau diajak ngobrol atau dikasih tau tentang kesalahan anak, dia selalu menjawab dengan: "apaan sih" dengan nada tinggi. Kalau kita teruskan obrolan atau arahan orang tua, ujung - ujungnya si anak pasti menangis
                                                                                                      
Bagaimana cara mendampingi dan membimbing anak seperti ini?
J:
Untuk anak perempuan berusia 10 tahun dan menunjukkan emosi tinggi, sulit dinasehati, dan cenderung melawan, orang tua, terutama ibu perlu melihat hubungan/relasi dan kedekatan yang terjalin selama ini. Apakah dekat? Atau justru jarang berelasi? Siapa yang lebih banyak waktu bersamanya? Apakah ada kemanjaan yang berlebihan sehingga si anak mengembangkan sikap egois dan tidak mau mendengarkan orang lain, bahkan orang tuanya. Pernahkah ditanya mengapa menangis bila diajak bicara? Apa yang diinginkan? Dsb.
Cara membimbing yang mungkin dapat dilakukan, ketahui dulu kebutuhannya dalam hal ini kebutuhan emosionalnya, adakan pendekatan dengan cara yang bukan pengajuan pertanyaan atau berbentuk nasehat. Pendekatan lebih pada sentuhan fisik misalnya memeluknya, mengajaknya berjalan-jalan, membeli es krim, melihat gambar  dsb. Yang membuat anak nyaman untuk menyampaikan isi hati/perasaannya.  Otoritas orang tua tetap harus dihormati anak. Bila berkenan, boleh menghubungi saya karena sepertinya persoalannya tidak sesederhana yang ditanyakan.

11.         Minus teman sebaya menjadi bergaul dengan orang dewasa (10th di komunitas remaja) karena mereka lebih diterima di teman sebaya ada larangan dan ortu teman. Bagaimana saya harus bersifat terhadap teman saya
J:
Anak sebaiknya bergaul dengan teman sebayanya karena mereka memiliki perkembangan yang hampir sama dalam berpikir, bersosialisasi, berinteraksi, dsb. Bila terbiasa bergaul dengan teman-teman yang usianya jauh di atas, akan memberikan dampak kurang baik dalam perkembangannya.

12.         Bagaimana cara memanage emosi anak (gampang marah dan cengeng)
J:
Anak yang mudah marah tetapi cepat menangis/cengeng biasanya mengalami suatu pengalaman yang tidak menyenangkan. Mungkin pola asuh, relasi, kedekatan, pendisiplinan, dsb. yang membuat anak seperti  itu. Cara mengatasinya, temukan dahulu penyebabnya.  Misalnya, orang tua yang tidak konsisten, suka memanjakan tetapi keras/suka memukul juga, sehingga anak bingung dan mudah marah.

13.         Bagaimana cara membela anak jika sedang ditegur keras sama pasangan kita
J:
Bila  pasangan menegur anak, sebaiknya pembelaan tidak dilakukan saat itu. Mungkin membantu pasangan dengan menjelaskan dapat dilakukan tetapi tidak langsung membela anak saat ia ditegur. Teguran agak keras perlu tetapi sikap kasar dan menganiaya tidak boleh.  Tuhan mengizinkan kita memarahi anak, tetapi tidak memperboleh kemarahan itu menjadi sakit hati. Maksudnya, tegur perbuatan anak tetapi tidak berkata kasar tentang pribadinya apalagi menyakiti perasaannya. Misalnya, ayah tidak suka cara kamu berbicara kepada orang tua, ibu marah melihat sikap kamu yang kurang sopan, dsb.
Kita dapat menyampaikan kepada pasangan kita di waktu terpisah agar cara menegur anak tidak seperti lain kali.

14.         Anak saya laki-laki umur 6th 7bl, sangat aktif cenderung sulit untuk diberi nasihat, & gampang lupa terhadap nasihat, dalam belajar tidak ada masalah,  hanya keaktifannya yang berlebih, saya harus bagaimana dalam memberi tahu?
J:
Anak aktif dan cenderung sulit dinasehati. Untuk anak berusia 6/7 tahun yang dimaksud keaktifannya seperti apa, karena anak seusia itu memang cukup aktif. Perlu dilihat juga apakah memang dia anak yang kinestetik atau suka bergerak atau ada hal lain yang perlu lebih diperhatikan. Mengingatkan anak untuk mengendalikan keaktifannya boleh dilakukan. Juga memberikan reward/penghargaan misalnya berupa sticker atau hal lain yang disukai bila dia dapat mendengarkan hal yang dinasehatkan orang tua. Boleh menghubungi saya untuk saya bantu observasi karena kurang lengkap bila hanya melalui penjelasan tertulis.

1 komentar:

  1. Jawaban diatas diberikan oleh Ibu Gia Shinta yang membawakan seminar tsb.
    Ibu Shinta memberikan kesempatan konseling tatap muka untuk beberapa kasus seperti yg beliau paparkan diatas. Jika ada teman2 membutuhkan konseling tatap muka dengan beliau silahkan kirim email ke teknomas@gmail.com atau SMS/WApps: 0878 8544 5168 / Pin BB :5482294A untuk membuat janji temu.

    BalasHapus